Tulisan tulisan yang dikaitkan (tagged) batik
Selamat Hari Batik!
Hari ini, 2 Oktober, telah ditetapkan sebagai Hari Batik dalam rangka menyambut pengakuan UNESCO (benerkan?) atas batik sebagai warisan budaya Indonesia. Presiden Indonesia pun menghimbau masyarakat untuk berpakaian batik pada hari ini. Dan waw, saya melihat batik dimana-mana. Batik is everywhere! Rasa bangga dan kagum terbesit di benak saya. Betapa agung dan indahnya Indonesia. Namun, saya juga berpikir, apakah hal ini akan bertahan seterusnya? Semoga bisa. BTW, saya juga pake batik loh, ya walaupun batik sekolah, tapi yang penting batik.

batik
Menurut wikipedia, Batik (atau kata Batik) berasal dari bahasa Jawa “amba” yang berarti menulis dan “nitik”. Kata batik sendiri meruju pada teknik pembuatan corak – menggunakan canting atau cap – dan pencelupan kain dengan menggunakan bahan perintang warna corak “malam” (wax) yang diaplikasikan di atas kain, sehingga menahan masuknya bahan pewarna. Jadi kain batik adalah kain yang memiliki ragam hias atau corak yang dibuat dengan canting dan cap dengan menggunakan malam sebagai bahan perintang warna.
Batik adalah kerajinan yang memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia (khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif perempuan sampai ditemukannya “Batik Cap” yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Ada beberapa pengecualian bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki.
Ragam corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh dipakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh luar, seperti para pedagang asing dan juga pada akhirnya, para penjajah. Warna-warna cerah seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix. Bangsa penjajah Eropa juga mengambil minat kepada batik, dan hasilnya adalah corak bebungaan yang sebelumnya tidak dikenal (seperti bunga tulip) dan juga benda-benda yang dibawa oleh penjajah (gedung atau kereta kuda), termasuk juga warna-warna kesukaan mereka seperti warna biru. Batik tradisonal tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan masing-masing.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenali berasal dari batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tadisional hanya dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
Batik merupakan warisan nenek moyang Indonesia ( Jawa ) yang sampai saat ini masih ada. Batik juga pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh Presiden Soeharto, yang pada waktu itu memakai batik pada Konferensi PBB. UNESCO menunjuk batik Indonesia sebagai mahakarya warisan budaya manusia pada 2 Oktober 2009.
Nah, segitu saja informasi yang saya copy-paste dari wikipedia. Oke, mari kita lestarikan budaya indonesia, tidak hanya batik, tapi semua kekayaan budaya Indonesia. Tunjukan rasa cintamu pada negeri!
Selamat Hari Batik! Happy Batik Day!
1 comment Oktober 2, 2009
Malaysia Kembali Berulah
OH MY GOD! Tadi saya nonton berita di Trans TV. Ada sebuah berita yang bikin saya naik pitam. Bagaimana tidak, Negara Tetangga Tak Tahu Malu kembali berulah. Dia mencantumkan TARI PENDET sebagai salah satu budaya Malaysia. Astagfirullah! Udah jelas-jelas seluruh jagad raya tahu kalau tari pendet itu asli dari Bali – Indonesia.
Ini bukanlah ulah yang pertama. Malaysia telah beberapa kali “MENCURI” kebudayaan Indonesia. Belum lama ini, Malaysia berulah dengan mengklaim Reog Ponorogo, yang kemudian diganti namanya menjadi Tari Barongan, sebagai budaya Malaysia. Tak hanya itu, Malay dengan tidak tahu malu-nya memakai lagu Rasa Sayange dalam salah satu iklan promosi pariwisatanya. Tidak cukup sampai disitu, ada Angklung, Batik, dan Wayang Kulit yang juga DICURI oleh Negara Tetangga Tak Tahu Malu itu.
Tidak hanya budaya, pulau-pulau milik Indonesia di perbatasan pun tak luput dari aksi pencurian. Sebut saja Pulau Sipadan dan Ligitan, serta Ambalat yang sampai saat ini diperebutkan. Belum lagi kasus-kasus penganiayaan yang dialami oleh para TKI di negeri jiran. Wah wah wah, semakin banyak saja ulah si Malay ini!
Saya sebagai Warga Negara Indonesia merasa marah melihat kondisi seperti ini. Ingin rasanya berbuat sesuatu. Namun apa daya, saya hanya rakyat biasa, bukan siapa-siapa. Saya hanya bisa berharap kita semua, bangsa Indonesia, bersatu padu menjaga keutuhan NKRI dan melestarikan kekayaan budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Jangan sampai kita kecolongan lagi. Cukup sampai disini.
Pemerintah Indonesia juga jangan diem aja. Ayolah, apa susahnya sih mempatenkan semua budaya Indonesia? Kenapa setiap ada kejadian seperti ini, Indonesia terkesan pasrah, tak ada langkah tegas yang diambil. Ayolah, beranilah bertindak tegas! Tunjukan cakarmu yang tajam wahai Garuda! Lakukan hal yang berani demi membela bangsa!
Kita juga sebagai warga negara yang baik harus ikut serta dalam menjaga dan melestarikan budaya Indonesia. Jangan cuma bertindak kalau sudah kecolongan. Ayo kita berperan aktif melestarikan budaya daerah kita masing-masing. Jangan malu atau gengsi, budaya kita keren-keren dan tidak ada duanya loh. Tuh lihat, Malay aja sirik sama kita.
Ayo Indonesia! Terbanglah Garudaku!
1 comment Agustus 21, 2009
