Hey!
Mei 12, 2009
Suatu sore menjelang malam atau biasa disebut petang, saya duduk-duduk ga ada kerjaan di depan rangka bersama beberapa orang adik kelas. Saat itu hanya ada saya, Nikita, Gema, Karina, Yuni dan Agita. Sekonyong-konyong datanglah sesosok wanita berkulit putih dan bermata sipit. Ya, itulah Oktawyana alias Nana alias Ahong.
Banyak yang memanggil Nana dengan sebutan Ahong. Ahong, Acong, Koko, Enci, dan sejenisnya biasanya dipakai untuk memangil orang yang bermata sipit atau keturunan Cina, Jepang, atau Korea. Bukannya rasis atau apa, memang hal ini sudah menjadi suatu kebiasaan di masyarakat.
Saya : “Eh, ada ahong.”
Nikita : “Ahong-ahong, akang sendiri sendirinya juga ahong ah.”
Hah? Saya berpikir sejenak, kenapa saya dibilang ahong juga? Ini bukan pertama kalinya saya dibilang ahong. Beberapa teman kost saya (atau mungkin semua) bilang saya ini keturunan Jepang, mata saya sipit dan mukanya juga tipe-tipe orang Jepang. Saya pun melihat ke cermin. Hmm.. mata saya biasa aja ah, ga sipit.
Obrolan dengan nikita dan kawan-kawan berlanjut.
Saya : “Saya ahong apanya? Saya kan orang sunda asli.”
Nikita : “Itu matanya sipit.”
Saya : “Hah? Mata saya ga sipit ah. Nih.” (sambil buka kacamata)
Nikita : “Ya kalo akang yang liat mah serasa normal, tapi orang lain yang liat pasti dibilang sipit.”
Dan ketika saya bertanya kepada yang lainnya, semuanya menjawab : Ya, saya ahong.
OMG! Hey hey, anda semua! Tolong perhatikan baik-baik, saya bukan ahong. Saya orang sunda asli. Setahu saya, leluhur saya tidak ada yang ahong. Tapi, sebentar. Adik saya sipit, kulitnya putih pula. Loh? Jadi saya ini sebenarnya ahong atau bukan ya?
Entry Filed under: Bersama Teman, Coretan Gejeh, Keseharian. .

Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed